Menjadi “sutradara” dalam pesta pernikahan merupakan hobi bagi sebagian orang, tetapi menjadi hal yang menguntungkan bagi sebagian yang lain. Menjadi “sutradara” dalam pesta pernikahan bukan
hanya menyalurkan kreatifitas tetapi juga membantu sang pasangan
pengantin yang mendambakan pesta pernikahan yang sempurna. Meskipun
faktanya, tak ada pesta yang sepenuhnya sempurna. Namun setidaknya
perhelatan istimewa dapat berlangsung sesuai rencana dan impian dengan
kesalahan yang bisa diminimalisasi. Inilah tugas wedding organizer (WO) atau sutradara dalam rangkaian acara pernikahan.
Jika anda memang bercita-cita menjadi WO atau hobi mengatur sesuatu, mungkin anda bisa memulai bisnis ini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar jasa WO anda bisa dilirik oleh masyarakat luas, paling tidak oleh orang terdekat anda dulu. Syarat pertama menjadi WO adalah professional. WO atau ada juga yang menyebutnya wedding planner adalah seperti sutradara film. Tugasnya adalah mengurus pesta pernikahan dari awal sejak persiapan hingga pelaksanaan di hari istimewa pasangan pengantin. Namun penting dicatat, WO bukanlah pelaksana pesta pernikahan dan tidak menggantikan keluarga yang terlibat dalam pernikahan sebagai panitia. WO merupakan sutradaranya, bukan pelaksana. WO memimpin divisi dari kepanitiaan yang telah dibentuk pihak keluarga. WO tidak menggantikan keluarga selaku panitia, namun juga WO tidak bisa digantikan keluarga.
Jika anda memang bercita-cita menjadi WO atau hobi mengatur sesuatu, mungkin anda bisa memulai bisnis ini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar jasa WO anda bisa dilirik oleh masyarakat luas, paling tidak oleh orang terdekat anda dulu. Syarat pertama menjadi WO adalah professional. WO atau ada juga yang menyebutnya wedding planner adalah seperti sutradara film. Tugasnya adalah mengurus pesta pernikahan dari awal sejak persiapan hingga pelaksanaan di hari istimewa pasangan pengantin. Namun penting dicatat, WO bukanlah pelaksana pesta pernikahan dan tidak menggantikan keluarga yang terlibat dalam pernikahan sebagai panitia. WO merupakan sutradaranya, bukan pelaksana. WO memimpin divisi dari kepanitiaan yang telah dibentuk pihak keluarga. WO tidak menggantikan keluarga selaku panitia, namun juga WO tidak bisa digantikan keluarga.
Menjadi “sutradara” dalam pesta pernikahan memang
membutuhkan ketelatenan yang tinggi dan juga sikap professional yang
bisa dipertanggung jawabkan. Hal inilah yang membedakan antara WO dan
keluarga. Jika WO bekerja secara profesional dalam mengurus pesta
pernikahan. Sementara, keluarga biasanya cenderung emosional dalam
menjalankan tugas-tugasnya. Syarat ke dua untuk menjadi WO adalah tidak
mahal. Banyak persepsi yang keliru dengan mengatakan untuk apa pakai WO,
sementara banyak teman dan saudara yang bisa dilibatkan. Atau
mengatakan bahwa WO mahal, padahal WO bekerja beberapa bulan sebelum
pernikahan. Sebenarnya ada peran yang tak bisa digantikan WO dan
membutuhkan keluarga di dalamnya, seperti pengaturan dan pengelolaan
keuangan pesta pernikahan.
Padahal
sebenarnya peran WO tidak sama seperti keluarga. Dan keluarga juga
tetap masih dibutuhkan perannya untuk bekerja bersama WO. Keluarga dan
WO berkolaborasi dengan cara kerja yang dipimpin oleh WO sebagai pihak
yang ditunjuk secara profesional dalam merencanakan dan menyutradarai
pesta pernikahan. WO bekerja beberapa bulan atau bahkan satu tahun
jelang hari pernikahan. Karena itu, peran WO penting dalam menunjang
kesuksesan perhelatan hari istimewa ini. WO berkoordinasi dengan
berbagai vendor pernikahan seperti dekorasi, fotografer, katering, dan
lainnya untuk memastikan semua rencana berjalan lancar. Jadi tak benar
bahwa WO memakan biaya pernikahan, apalagi kalau dilihat dari waktu
kerja dan kontribusi yang bisa diberikan, biaya WO tidaklah mahal.
Menjadi “sutradara” dalam pesta pernikahan juga
harus mengikuti syarat yang ke tiga yaitu penengah. Menyiapkan pesta
pernikahan, terutama di Indonesia yang melibatkan keluarga besar, tak
selamanya mudah. Banyak keinginan yang disampaikan dari berbagai pihak.
Tak hanya keluarga inti, namun juga keluarga besar dari pihak calon
pengantin perempuan dan laki-laki. Menyatukan berbagai persepsi,
pendapat, dan keinginan keluarga ini bukan pekerjaan mudah. Di sinilah
peran WO, sebagai penengah dan memberikan saran yang obyektif dan tidak
bias. Keluarga banyak peliknya dan cenderung tidak bisa memberikan saran
yang netral.
Syarat
ke lima adalah dibutuhkan. Kebutuhan bisnis jasa WO selalu ada karena
pernikahan tak ada habisnya. Kepercayaan dari klien dan reputasi baik
membuatnya selalu direkomendasikan dari pasangan pengantin satu ke
pasangan lainnya. Kepuasan dalam hal pelayanan menjadi salah satu kunci
meraih kepercayaan konsumen. Syarat selanjutnya adalah tidak takut
pesaing. Karena jasa bisnis WO dibangun atas dasar transaksi keterikatan
tadi, Anda tak perlu khawatir jika pesaing baru bermunculan. Syarat
yang terakhir adalah kompensasi jasa. Bisnis WO di Indonesia berbeda
dengan negara lain. Boleh jadi WO di negara lain lebih mahal, karena
menggunakan sistem pembayaran per jam atau skema presentase. Di
Indonesia, kebanyakan WO menggunakan satu harga untuk satu pesta
pernikahan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar